hawa :
sanggupkah aku berdiri tanpa tunggak kepercayaanku?
sanggupkah aku melangkah tanpa jejak langkah seorang pemimpinku?
aku bagai wanita liar
aku bagai anak jalanan
bahkan aku bisa bagai lonte jika kau tak tegakkan tiang asaku
teruslah menjadi damai dihatiku?
teruslah tuan teruslah....
adam:
percayalah bahwa tanah ini masih menyimpal sejengkal tanah tuk kau berdiri meski tanpa penopang
teruslah berjalan meski tak kau temukan jejak langkah pemimpinmu
karena aku akan menjadi bintang sebagai arah untuk kau melangkah
aku akan menjadi penopang yang slalu menegakkan asamu
dan menjadi udara yang menyejukkan damai hatimu
hawa:
bolehkan aku bersandar di bahumu?
untuk sekedar berebah dan bisikkan rintihan jiwa dan nafsuku
"terima kasih"
adam:
wahai kau yang di sana apalah arti bahuku ini
jika hanya sekedar tuk kau rebahi dan berucap "terima kasih"
seandainya kau mau setiap inci dari tubuhku bisa kau sandarkan dirimu
untuk selalu berbagi rasa sedih dan bahagiamu
hawa:
sekarang sudah aku temukan
ya.... aku temukan sekarang
inilah lelaliku
adam:
apakah sudah kau yakinkan hatimu bahwa yang kau temukan benar-benar lelakimu?
sedangkan masih banyak laki-laki lain yang mungkin itu terbaik bagimu wahai nona
hawa:
jika aku yakin....
apa kau juga akan menyangkal takdir tuhan??
sedangkan cinta ada ketika tuhan membuka hati manusia
yakini saja ucapanku dan batinku sama dengan kepercayaan adam terhadap hawa
adam:
ingatlah cinta sejati tak tumbuh dalam sekejapan
ia tumbuh dengan lama, namun sekali ia tumbuh akarnya benar-benar kuat mencakar tanah
namun jika tidak ada lagi keraguan dalam benakmu maka melangkahlah
yakinkan lelakimu seperti hawa meyakinkan sang adam
bahwa dia adalah tulang rusuknya
hawa:
aku tak begitu yakin bahwa cinta sejati tak bisa dirasa sekejap
karena aku percaya, kejujuranlah yang membuat cinta sejati itu ada
adam:
jika tak ada lagi alasan untuk menepiskan cinta
maka katakanlah siapa anak adam yang begitu beruntung
dan apa alasan yang bisa membuatmu begitu yakin bahwa dialah lelakimu??
hawa:
"kamu"
adam:
apa alasanku untuk bisa percaya semua itu??
hawa:
sepertinya hanya hatiku yang menyimpan alasanmu
adam:
sebesar apa keberanianmu untuk melangkah bersamaku??
hawa:
berani, seberani-beraninya adam dan hawa memakan buah kuldi.